Houseplanted: Solusi Hijau untuk Lahan Terbatas

     Keterbatasan lahan menjadi salah satu masalah dalam membudidayakan tanaman. Bukan hanya soal budidaya tanaman konsumsi, namun juga tanaman koleksi yang menjadi hobi beberapa orang. Saat ini, minimnya area terbuka hijau yang terintegrasi dengan fasilitas mendukung menjadi keluhan bagi sebagian besar orang. Pasalnya, area terbuka hijau menjadi salah satu bentuk stress reducer yang terbukti dapat menjadi pelarian dari hiruk pikuk penatnya dunia. 

    Beberapa penelitian telah menyebutkan peranan area terbuka hijau sebagaimana salah satunya dapat meminimalisir tingkat depresi. Secara langsung, area terbuka hijau memberikan pemandangan indah hijau dan alamiah di tengah sesaknya kota. Secara tidak langsung, area terbuka hijau bertanggung jawab atas alur sirkulasi udara di tengah kota. Kendati ekosistem tersebut bukan menjadi yang utama dalam penyedia oksigen kota, namun dengan adanya area terbuka hijau dapat menjadi filtrasi dan penyedia oksigen pendukung untuk fungsi yang lebih luas. 

   Houseplant atau tanaman rumah menjadi salah satu alternatif yang menjadi solusi permasalahan yang ada. Istilah houseplant telah populer sejak pandemi covid-19 merambah. Houseplant adalah jenis tanaman yang diyakini mampu hidup dengan baik di dalam rumah dengan kondisi yang cenderung memiliki keterbatasan akses terhadap cahaya. Jenis tanaman ini mampu beradaptasi dengan pencahayaan dan aerasi yang minim. Houseplanted merupakan sebuah sistem yang dikenalkan dalam istilah penempatan atau penanaman jenis tumbuhan ini di dalam rumah. 

    Dengan memaksimalkan ruang yang ada tanpa memerlukan lahan luas, memilih jenis houseplant yang cocok merupakan pertimbangan yang cukup mutakhir mengatasi permasalahan keterbatasan area terbuka hijau yang ada. Beberapa penelitian telah menyebutkan manfaat sistem penanaman di dalam rumah ini. Jenis tumbuhan houseplant memiliki peranan yang cukup baik dalam mengolah udara berpolutan di dalam ruangan. Jenis polutan yang diserap umumnya merupakan hasil dari evaporasi perabot yang berdampak toxic dalam jangka panjang. Ini merupakan sebuah jalan pintas yang memiliki peranan potensial untuk dikenalkan secara luas. 

    Housplanted telah banyak digemari oleh para pegiat tanaman hias di luar negeri. Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh pegiat tanaman hias di sana menyumbang inisiatif untuk memulai sistem ini sejak lama. Baru beberapa dekade kemudian menjadi cukup populer di Indonesia sejak pembatasan akses akibat pandemi berlangsung. Beberapa jenis tanaman ruangan (houseplant) yang direkomendasikan untuk menjadi pilihan adalah sebagai berikut:

1. Tanaman dari famili Araceae (Aroids)

    Jenis tanaman ini secara alamiah hidup dan tumbuh dengan baik pada habitat lembap dan bernaungan. Aroids adalah pilihan yang cocok untuk memaksimalkan visual ruangan bernuansa eksotik hutan tropis. Jenis tanaman ini telah lama dibudidayakan dan dipelihara secara indoor sebagai bagian dari houseplant. Tanaman ini memiliki pengaruh besar dalam pengolahan karbon dalam ruangan. Melalui anabolisme fotosintesis, karbon dioksida (CO2) hasil dari pembakaran sempurna akan diserap dan diolah bersama dengan air (H2O) yang menghasilkan metabolit primer (berupa glukosa dan oksigen) serta metabolit sekunder. Metabolit sekunder yang ada umumnya bersifat toxin pada beberapa jenis dan disarankan untuk diletakkan jauh dari jangkauan anak-anak/orang rentan. Kendati demikian, metabolit sekunder yang ada merupakan bagian dari sistem perlindungan diri tanaman dari serangan hama. Oleh sebab itu perawatannya terhadap serangan hama tergolong tidak terlalu sulit. 

2. Spider plant/lili paris (Chlorophytum comosum)

    Nama spider plant merupakan penamaan adaptasi dari morfologinya yang memiliki daun sejajar meruncing dan menyulur mirip kaki laba-laba. Jenis tumbuhan ini umunya cenderung hidup pada areal yang teduh dan tidak terlalu basah. Jenis tumbuhan ini sangat cocok dipelihara karena sistem adaptasinya yang cukup baik terhadap lingkungan indoor maupun outdoor. Kendati demikian, jenis tumbuhan ini memiliki batas toleransi tertentu untuk sinar matahari. Kelebihan pasokan sinar matahari akan membuat daun-daunnya menguning dan kering. Jenis tumbuhan ini telah terbukti efektif dalam menghilangkan racun seperti formaldehida, xylene, dan toluena dari udara dalam ruangan, meskipun penelitian awal ini dilakukan pada lingkungan yang terkontrol.

3. Lidah mertua (Sansevieria sp.)

    Nama yang unik menggambarkan jenis tumbuhan dengan morfologi akar serabut rimpang, batang pendek yang tertutup daun tebal dan kaku, daun berbentuk pedang atau garis yang meruncing dan mengandung serat, serta bunga berumah dua yang tidak memiliki aroma kuat. Jenis tumbuhan ini telah banyak dikenal oleh masyarakat secara umum dan telah diadaptasi sebagai jenis tumbuhan yang cukup resisten bertahan sebagai tanaman ruang (houseplant). Jenis tumbuhan ini terbukti mampu mengubah polutan dimana Sansevieria ni memiliki kandungan aktif pregnane glycoside yang dapat mereduksi polutan menjadi asam organik, gula, dan asam amino yang lebih tidak berbahaya. Sansevieria juga mampu menyerap gas berbahaya seperti formaldehida, benzena, xylene, dan karbon monoksida dari asap rokok dan sumber polusi lainnya.

4. Kaktus dan/atau sukulen

    Kaktus dan/atau sukulen tumbuh dengan baik di lingkungan ekstrem gurun yang memiliki keterbatasan akses terhadap air. Sukulen adalah kelompok tanaman tahan kekeringan yang menyimpan air di bagian berdagingnya seperti daun, batang, atau akar. Sedangkan kaktus merupakan salah satu bagian atau jenis dari tumbuhan sukulen. Batang jenis tumbuhan kaktus yang menggembung sebagai tempat menyimpan cadangan makanan dan daun yang termodifikasi menjadi duri untuk mengurangi penguapan adalah bentuk adaptasi mutakhir yang tumbuhan ini lakukan untuk bertahan hidup. Terdapat semacam lapisan lilin (kutikula) pada epidermis bata yang juga berfungsi mengurangi penguapan dan melindunginya dari serangan serangga. Ketahanan jenis tumbuhan ini terhadap pola penyiraman yang jarang menjadi pilihan yang cocok untuk para pegiat tanaman hias yang memiliki keterbatasan waktu untuk memelihara. Untuk menjaganya tetap tumbuh dengan baik, pastikan untuk menghindari kelembapan yang berlebih agar tidak terjadi pembusukan pada batang. Kaktus dan beberapa jenis sukulen lain dapat menyerap senyawa karbon berbahaya dari udara, seperti benzena dan formaldehida, yang sering ditemukan di lingkungan dalam ruangan. Metabolisme Asam Crassulacean (CAM) adalah mekanisme unik pada kaktus memungkinkan penyerapan karbon dioksida dilakukan pada malam hari, saat transpirasi (pelepasan uap air) lebih sedikit. Permukaan kaktus dapat menangkap partikel debu dan polutan lainnya yang ada di udara, sehingga membantu proses filtrasi dan membuat udara lebih bersih. Penelitian NASA menunjukkan bahwa kaktus efektif dalam menyerap radiasi elektromagnetik (EMF) yang berasal dari perangkat elektronik seperti komputer dan ponsel, sehingga dapat membantu mengurangi paparan radiasi di dalam ruangan.

5. Pakis (Pteridophyta)

   Suplir, kadaka, dan boston fern, adalah beberapa jenis tumbuhan pakis yang sering menjadi primadona koleksi houseplant. Jenis tumbuhan ini hidup pada area lembap bernaungan yang merupakan adaptasi yang cocok pada lingkungan indoor. Selain menjadi pilihan yang cocok untuk penyerap polutan udara, jenis tumbuhan ini kerap kali menjadi media fitoremediasi yang melibatkan tumbuhan sebagai penyerap kontaminan seperti logam berat melalui akarnya.

Komentar

Postingan Populer