Best Practice: Tiru Alam untuk Ekosistem Berkelanjutan

Situasi:

Daerah rumah saya yaitu berada di lingkungan Dusun Bakulan, Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar adalah salah satu desa dengan kondisi lingkungan yang masih cukup stabil sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, daerah yang dulunya masih berupa tanah hijau heterogen kini beralih menjadi bangunan rumah dan persawahan yang mayoritas merupakan kultur homogen. Kondisi ini menggerus banyak sekali rantai makanan dan menciptakan ekosistem baru yang berbeda dari sebelumnya. Menggiring banyak sekali hewan-hewan seperti tikus, belalang, ular, yang dulunya berhabitat alami di area hijau kini beralih ke rumah-rumah warga.

Oleh karena itu, saya menerapkan teknik kultur bernama “Tiru Alam” atau yang secara ilmiah dikenal sebagai heterokultur pada lingkungan di sekitar rumah saya, Kendati banyak sekali pro-kontra dalam pengaplikasiannya, namun teknik ini dapat memberikan dampak yang cukup baik khususnya di lingkungan rumah saya. Teknik ini diadopsi dari kondisi lingkungan yang heterogen untuk menyediakan kondisi mirip lingkungan awal dalam bercocok tanam. Teknik ini saya aplikasikan secara pribadi sebagai uji coba sebelum dikenalkan kepada masyarakat secara luas untuk mengerti dampak apa yang sekiranya muncul apabila diterapkan di lingkungan Dusun Bakulan. 

Tantangan:

           Jenis tumbuhan yang beragam menjadi salah satu tantangan bagi saya untuk menerapkan teknik kultur ini. Pasalnya, untuk mengaplikasikan teknik kultur tiru alam ini perlu adanya penyesuaian dengan perkiraan kondisi alam sebelumnya, guna menentukan jenis tumbuhan yang secara alami dapat tumbuh tanpa menjadi invasif dan mengganggu ekosistem yang ada. Untuk Menciptakan kondisi lingkungan yang stabil dalam teknik kultur ini diperlukan perencanaan yang matang dan pengetahuan soal kondisi lingkungan sekitar.

       Kondisi cuaca yang berubah-ubah adalah tantangan selanjutnya setelah menentukan jenis tumbuhan yang sepakat untuk ditanam. Pergantian cuaca dan suhu yang sering kali berubah-ubah dapat mengganggu tumbuh kembang dari tumbuhan yang telah mulai ditanam. Hal ini dapat memicu kegagalan dalam proses perkembangan ekosistem hingga gagal panen. Untuk mengatasinya, saya memilih jenis tumbuhan yang memiliki akar tunjang yang cenderung kuat menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan menyiapkan persediaan untuk menghadapi pergantian musim. Selain itu saya juga menyebar seresah daun di atas tanah untuk meniru kondisi alam hutan dan untuk menjaga kondisi tanah dari kekeringan atau hujan.

Aksi:

  1. Menentukan tempat penanaman. Pemilihan tempat ini cenderung bebas dan bahkan biasa dilakukan di pekarangan rumah, di bawah terik sinar matahari, atau bahkan di bawah naungan pohon besar.
  2. Menentukan jenis tumbuhan yang cocok dengan kondisi lingkungan. Biasanya merupakan jenis tumbuhan yang secara alamiah tumbuh subur di lingkungan sekitar, seperti keluarga Araceae, Ficus, dan tumbuhan perintis seperti jenis tumbuhan Pteridophyta. Pemilihan jenis tumbuhan ini juga dipengaruhi oleh pemilihan tempat yang ada. Jika tempat yang dipilih adalah daerah terik dan gersang, alangkah baiknya juga menyiapkan tumbuhan yang tahan terhadap terik matahari. Begitu pula untuk daerah redup dan daerah penanaman lainnya, semua harus disesuaikan atau direkayasa.
  3. Mengolah tanah penanaman. Agar lahan layak untuk ditanami, tanah harus diolah dengan menggemburkan tanah dan mencampurkannya dengan pupuk alami, seperti seresah daun, kompos, ataupun kotoran hewan herbivora. Tanah ini harus diolah minimal tiga hari sebelum penanaman agar unsur hara dapat terserap dan terpenuhi secara maksimal.
  4. Menebar seresah daun di atas tanah. Tujuannya adalah untuk meniru kondisi lantai hutan yang penuh seresah daun, juga untuk menstabilkan suhu lantai penanaman dan menyediakan unsur hara tambahan untuk tanah.
  5. Menanam tumbuhan primer. Tumbuhan primer adalah jenis tumbuhan perintis yang akan membantu mengolah tanah dan menjaga unsur hara di dalamnya. Jenis tumbuhan ini adalah jenis tumbuhan yang kita pilih atau tentukan sebelumnya di awal.
  6. Menanam tumbuhan sekunder atau komplementer. Tumbuhan jenis ini bisa berupa tumbuhan kebun yang akan diambil manfaat atau keuntungannya, seperti tanaman buah, sayuran, ataupun bahkan tanaman hias.
  7. Tahap terakhir adalah perawatan. Jangan pernah memberikan zat kimia buatan pada lahan. Berikan perawatan organik seperti timbunan kompos, kotoran hewan, sampah dapur, pupuk organik, air cucian beras, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu seminggu, kondisi lahan akan mulai menyesuaikan dengan kondisi alam secara alamiah. Bantuan dari mikroorganisme dan serangga akan membantu penyesuaian. Dengan begitu, hewan-hewan juga akan bermunculan dan menganggap lahan itu sebagai lingkungan alamiah mereka. 

Hasil:

            Selama kurang lebih setengah tahun teknik ini saya aplikasikan di pekarangan rumah, saya tidak perlu repot-repot lagi untuk menyiram ataupun memupuk tanaman. Sebab telah secara alami mendapat unsur hara dari daun-daun yang berguguran dan air hujan yang tersimpan di dalam tanah. Dari pekerjaan minimal ini, saya berhasil mendapatkan hasil kebun yang cukup untuk kehidupan sehari-hari, seperti hasil panen bayam, kangkung, belimbing, alpukat, kelengkeng, rambutan, murbei, dan masih banyak lagi. Saya hanya perlu melakukan pergiliran tanaman apabila ingin mendapatkan hasil kebun yang berbeda pada setiap musimnya.

            Selain itu, pekarangan rumah saya menjadi lebih hijau meski sedang musim kemarau. Kondisi ekosistem buatan pada aplikasi teknik kultur ini menjaga ketersediaan air dan unsur hara pada tanah. Tanaman hias yang tumbuh juga menghiasi pekarangan rumah sehingga terlihat segar setiap harinya. Dari hasil praktik ini dapat mengurangi sampah organik dan sampah dapur yang ada dirumah untuk dikonversi menjadi barang yang lebih bermanfaat. Teknik ini juga mendatangkan hewan-hewan dan menyediakan tempat tinggal bagi mereka, seperti berbagai macam jenis burung yang ramai berkicau di pagi hari, tupai, dan ayam hutan yang datang dari hutan lingkungan sebelah. Dengan pengembangan teknik tiru alam ini, kondisi udara perlahan juga terasa begitu segar hingga sering kali berkabut saat musim hujan tiba.

Refleksi:

       Penerapan teknik ini perlu kajian lebih lanjut guna benar-benar menemukan manfaat dan pengaruhnya bagi lingkungan sekitar dalam jangka panjang. Selama kurun waktu setengah tahun ini, banyak manfaat yang sudah saya dan tetangga saya rasakan. Pengembangan teknik ini perlu banyak dukungan dan aplikasi masal guna mendukung gerakan peduli lingkungan dan juga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Penerapannya juga tak hanya dibatasi dalam lingkup pertanian, sejatinya juga dapat dikembangkan dalam lingkup peternakan agar lingkungan sekitarnya menjadi lebih produktif. Saya merasa selama mengaplikasikan teknik ini mendapatkan banyak sekali manfaat baik dari segi materil hingga non-materil, seperti ilmu pengetahuan tentang pemilihan tumbuhan dan kepekaan terhadap lingkungan.

Komentar

Postingan Populer